Akhir-akhir ini saya jadi suka kepada penulis-penulis dari Perancis. Entah mengapa ? Kadang-kadang rasa mengatasi logik. Kecenderungan memilih tanpa mengenal sepenuhnya, mematahkan klise tak kenal maka tak cinta.
Nama-nama besar extravaganva dari kota Paris dan ceruk-ceruk daerah mana Perancis, selain daripada jersi biru disarung Zidane, saya masih tidak tahu mengapa ingatan terjelepuk pada pengarang-pengarang dari Perancis itu.
Sebelum ini saya terpikat pada Andre Gide. Entah mengapa. Saya mungkin merasakan betapa mudahnya penceritaannya tetapi dengan satu cara yang unik. Ceritanya tentang manusia dan kemanusiaan itu sendiri yang terbela atau terpinggir, terbangun atau terjatuh, tersedar atau terlupa, terbawa arus masyarakatnya atau terpinggir, tersemu atau tercerah dengan sesuatu - tapi semacam ada kekacauan yang revolusi sifatnya mengheret saya untuk membaca mereka. Sekadar membaca dan menjadi pembaca yang bocah, masih mahu main melontar guli.
Seolah ada seorang pemuda dengan suara yang parau sedang memuntahkan sesuatu, tetapi masih tegap menjerit sekuat hati. Tidak silap saya Rimbaud juga dari Perancis, begitu juga Taher Ben Jalloun dari Maghribi, tapi menulis dalam bahasa Perancis. Dikatakan Franchopic atau apa istilahnya, penulis dari luar Perancis tapi menulis dengan bahasa itu.
Dari mereka, hanya sekitar kurang 10 % orang Perancis yang boleh berbahasa inggeris, tetapi begitu banyak melahirkan pengarang dan menyumbang pengalaman ilmu untuk dunia. Mereka tetap mengunggulkan bahasa bangsa sendiri. Begitu banyak buku dari penulisnya diterjemahkan, dan tentu kita tidak mudah lupai dari sumur sasteranya sang failasuf Albert Camus dan Jean-Paul Sartre. Kita tidak tentu menyanggupi falsafah Existentialism itu, tetapi semangat bangsa dan agama dengan medium bahasa, sudah mengganggap mereka ke atas para dunia.
Kita sedikit keliru atau terkebelakang. Itu saja. Maka eloklah kita fikirkan tentang apa yang kita mahu 'adakan' dan 'tiadakan' dalam perancangan seratus masa hadapan mulai sekarang ini.
.
14.7.09
7.7.09
insyaAllah
They Don't Care About Us lyrics
Skin head, dead head
Everybody gone bad
Situation, aggravation
Everybody allegation
In the suite, on the news
Everybody dog food
Bang bang, shot dead
Everybody's gone mad
All I wanna say is that
They don't really care about us
All I wanna say is that
They don't really care about us
Beat me, hate me
You can never break me
Will me, thrill me
You can never kill meJew me,
Sue meEverybody do me
Kick me, Kike me
Don't you black or white me
All I wanna say is that
They don't really care about us
All I wanna say is that
They don't really care about us
Tell me what has become of my life
I have a wife and two children who love me
I am the victim of police brutality,
nowI'm tired of bein' the victim of hate
You're rapin' me of my prideOh, for God's sake
I look to heaven to fulfill its prophecy...
Set me freeSkin head, dead head
Everybody gone badtrepidation, speculation
Everybody allegationIn the suite, on the news
Everybody dog foodblack man, black mail
Throw your brother in jailAll I wanna say is that
They don't really care about us
All I wanna say is that
They don't really care about us
Tell me what has become of my rights
Am I invisible because you ignore me?
Your proclamation promised me free liberty, now
I'm tired of bein' the victim of shame
They're throwing me in a class with a bad name
I can't believe this is the land from which I came
You know I do really hate to say it
The government don't wanna see
But if Roosevelt was livin'
He wouldn't let this be, no, noSkin head, dead head
Everybody gone badSituation, speculation
Everybody litigationBeat me, bash me
You can never trash meHit me, kick me
You can never get me
All I wanna say is that
They don't really care about usAll I wanna say is thatThey don't really care about usSome things in life they just don't wanna seeBut if Martin Luther was livin'He wouldn't let this beSkin head, dead headEverybody gone badSituation, segregationEverybody allegationIn the suite, on the newsEverybody dog foodKick me, Kike meDon't you wrong or right meAll I wanna say is thatThey don't really care about usAll I wanna say is thatThey don't really care about usAll I wanna say is thatThey don't really care about usAll I wanna say is thatThey don't really care about usAll I wanna say is thatThey don't really care about usAll I wanna say is thatThey don't really care about us
.
4.7.09
pelakon
kita bukan dijadikan sebagai pelakon
tapi ramai yang berjaya sebagai pelakon
watak yang kabur dan watak berpendirian
setiap lakonan pasti memerlukan skrip
dan skrip selalunya membuatkan diri kita
lebih terurus dalam melakonkan sesuatu watak
adakah mampu kita terus berlakon
walau selalunya kebenaran itulah yang membayangi
watak sebenar diri kita
4.7.2009
.
2.7.09
tidak ada mandulnya bahasa ibunda, dan suburnya bahasa asing..
tercair
(untuk bahasaku)
dia tahu, aku tahu
kamu juga tahu tentang
bahasa yang tercair
kata-kata yang cair
bagai bongkah ais di kutub utara
kerana pemanasan global
bukan sahaja itu ia mencair atau tercair
kerana yang lain, maka mentari sudah cair
dan bulan juga telah jadi bendalir buat penyair
.
merindui bahasanya nan tulen
memukakan ungkapan pintar
bungkal perasaan gejolak rawan
ilusi fatamorgana mengamit
terheret ke omong apologetik
penuh retorik dan demagogi musibat aneh
terhadap bahasa budi estetik
merawat jahil pak kaduk
dan rapuh jatidiri tenggang
yang tidak pernah dilakukan oleh sesiapa
di atas nama sejarah dan peradaban masa
atau munasabah pada pertuturan leluhur
dengan sengaja mengalirkan cita
di atas lautan yang bergelora
mengulung amarah dan sengketa
yakin kabur di pertengahan wacana
longgar pendirian kerana kehilangan
mata renungan pada rahsia makna bahasaku
bahasa yang mengajar awalan nama
dan hujung pencarian diri
tetapi dipertaruhkan nasib di meja bergelandangan
mana mandulnya fikir atau pemikir
mana suburnya diri atau pendiri
mana pencari kebenaran yang asli
yang tercair, bahasanya bahasaku bahasamu
yang mencari, dirinya dirimu diriku
yang hilang antara ruang pencarian ini
untung ruginya mengecewakan
bagai setiap mawar merah berkembang di tengah malam
kala gurindam Raja Ali Haji dibacakan kembali,
dan kau tersenyum puas
tika menakung air mata di sela
kelopak sekuntum mawar dari ribuan jingga berbaur merah
.
2.7.2009
.
30.6.09
hanyut
diri, dihanyutkan ke muara durja
sebelumnya termanggu di tebing resah
rebak dan terhakis tanpa warna
sebaris kata menjadi peribadi
ditumpangkan di atas daun yang hanyut
lewat sungai abadi
masih ada yang berbaki
suara kering dari hari-hari yang ditangiskan
menyusup keluar dari nafas
namun terbeban dalam wadah hati
seribu gurisannya siapa yang mau peduli
tanpa penawar tanpa saranan
gelap menyelubungi bagai hilangnya sakti
pada mitos putera raja atau petapa yang mistikal
peribadi juga terurai lewat tanah kontang
pohon tidak subur dan
angin menjadi penakut kepada kebiasaan
rumahmu menjadi sepi menumpangkan lagu cengkerik bisu
30-6-09
.
29.6.09
berjalan dengan bukan kemauan sendiri
i
kemauan sendiri itu kadang-kadang terlalu kompleks dan seni
tidak semua orang menerima dan memunasabahinya.
kita belajar dan diajar untuk menyimpan apa sahaja kemauan
yang tidak cocok dengan fahaman orang di sekeliling kita
etinya tidak ada lagi kemauan peribadi
sebaliknya yang ada adalah mengikut arus yang tidak berbentuk
selagi kita ada kemauan dan berani berdiri di atasnya
sekurang-kurangnya bentuk itu kita berasa selesa dengannya
ii
menulis sajak mengajar kita untuk berkemauan sendiri
ada akar dan ada dahannya
kita kekurangan citra
lalu kemauanlah yang mengindahkannya
mencari dari selokan rahsia diri
tertoreh di sebahagian kecil jasad
tidak membekaskan sakit pada luara
tetapi bebas dengan suaramu
terasa bagai mati lebih awal
iii
kaki tanpa jejak dan angin tanpa wajah
melurut pengalaman yang muram, terpencil
kasad yang tidak teguh merencamkan rasa
bongkah amarah selalu luluh sendiri kerana hilang nyilunya
berlaku perlahan-lahan, diam seperti pergantian malam dan siang
tiada terasa kesan - biar mentari sudah lama berlari
iv
dalam gelita itulah gua peribadi terbentuk
dari suar gelisah malam yang tidak berganjak
kaku mengigit kayu api yang marak
panas lama dan seakan tidak padam
kunang-kunang menari dan menyanyi
susunan senandung enigma dari pujangga bohemian
api menjadi cerita
abu menjadi ketawa
hangat yang mencubit dingin memanggil
nama-nama benda untuk dibebelkan
vi
baring di atas pasir
rumput berubah menjadi tilam
asyiknya mata memuji bintang
terpegun dengan bentuknya yang penuh tanda
'apakah erti berkemauan?'
soal diri kepada bulan yang terang benderang.
.
29-6-09
.
22.6.09
spritual si penulis menulis
Saya percaya kepada gabungan dua unsur yang hamoni. Pertama, unsur minda atau pemikiran dalam mengarap gagasan atau idea menjelmakan sebuah karya itu. Kedua, unsur spiritual atau kerohanian dalam menjadikan karya itu benar-benar mandiri sifatnya.
Imam Al-Ghazali, menghuraikan tentang peranan akal dan hati dalam menjadikan manusia itu seimbang amalan, pemikiran dan jiwanya. Hal ini bukanlah satu pandangan yang baharu pada zaman Imam Al-Ghazali r.a, kerana Al-Quran dan Rasulullah s.a.w sendiri pencetus kepada perbicaraan tentang keseimbangan dua perkara atau unsur itu dalam diri manusia.
Karya sastera atau ilmiah sekalipun, adalah daripada kerja tangan manusia yang ada campur tangannya dengan dua unsur tadi. Kalau difikirkan, mungkin terlalu teorikal sangat. Tetapi memang bagi mereka yang pernah atau biasa menulis - dua unsur tidak mungkin berpisah.
Cuma kerohanian itulah yang berbeza dari setiap penulis. Barangkali idea atau pemikiran antara seorang penulis dengan yang lain, agak hampir sama. Mungkin hal itu disebabkan faktor luaran, yang banyak mempengaruhi cara fikir atau faktor dalaman menerusi tahap pendidikan dan sebagainya. Tetapi rohani itu sifatnya pada saya ekslusif, unik dan tersendiri. Gabungan kedua-dua ini melahirkan seorang pengarang yang berbeza dari yang lain.
Ini bukan teori atau apa, saya sekadar memberi pandangan. Barangkali perlu diperbaiki. Dalam rohani inilah yang membezakan antara pengarang muslim dengan bukan muslim. Bagaimana seorang pengarang muslim ikhlas dengan yang muslim tapi tidak ikhlas. Ikhlas maksudnya menyatakan Islam sebagai the way of life. Salman Rusdie misalnya, tentunya dia pengarang yang bernamakan seorang muslim, tetapi tidak ikhlas, mungkin.
Kerana itu terdapat perbezaan antara pengarang muslim dan bukan muslim, bukan segi struktrul karyanya, tetapi dari segi kerohanian itu. Dan hari ini spiritual ini sudah diterima di Barat, tetapi mungkin sedikit berbeza daripada yang difahami di Dunia Islam. Tapi saya fikir untuk huraikan perbezaan itu di sini.
Spritual itu mungkin dua jenis, satu untuk perasaan yang manusiawi. Satu lagi mungkin perasaan yang berhubung dengan ghaib. Yang kedua itu, mungkin membezakan antara muslim dengan bukan muslim segi faham spiritual itulah. Itu saja yang saya terfikir sekarang ini.
Kedua-dua spiritual itu ada manafaatnya terhadap penulis, baik muslim atau tidak. Bayangkan bagaimana ramai kalangan penulis bukan muslim menulis sebegitu banyak karya yang kita boleh akui, mempunyai nilainya tersendiri. Seperti Doris Lessing, Saramago, Fyodor Dostoyevsky, Harold Pinter, Samuel Beckett atau Pablo Neruda. Tetapi spiritual itu sifatnya manusiawi. Sensiviti mereka dari sudut manusiawi mereka cukup kuat dan berkesan, tidak kiralah subjek matternya tentang mereka atau tentang orang lain.
Berbeza dengan spiritual yang berhubung dengan ghaib yang memang mempunyai dorongan cukup kuat untuk mengahasilkan sesuatu seperti yang berlaku pada ramai sarjana muslim yang ditinggalkan sebahangian karya mereka hari ini. Terkadang kita dapat bayangkan entah bagaimana Imam Nawawi r.a misalnya dapat mengarang buku yang lebih daripada 20 buah buku. Dan beberapa daripadanya itu mempunyai lebih daripada 20 jilid misalnya. Dan tidak dapat difikirkan secara logik, entah macam mana - hidup kepengarangan dan kesarjanaan Imam Nawawi r.a misalnya. Ini cuma satu contoh daripada ribuan contoh pengarang sarjana muslim yang cukup hebat menghasilkan karya. Juga apa yang berlaku kepada Syed Qutb yang menulis Fi Zilal Al-Quran yang tebal-tebal dan berbeza pendekatannya daripada kitab tafsir yang klasik.
Maka dua spiritual ini mungkin sahaja ada setiap pengarang, cuma kuat atau tidak sahaja. Sekian.
.
Langgan:
Catatan (Atom)